REMAJA TANGGUNG JAWAB SIAPA?
Tidak sedikit yang menganggap masa remaja adalah masa yang cukup menyenangkan dan membahagiakan. Memang tidak dapat dipungkiri jika masa remaja adalah masa yang mengasyikkan, namun juga merupakan masa bahwa remaja memerlukan perhatian yang ekstra dalam perkembangannya. Pembinaan remaja khususnya anak sekolah ( SMP- SMA), perlu penangganan lebih dari bapak ibu selaku orang tua, dan peran guru sebagai ” orang tua di sekolah”. Bila tidak terjadi komunikasi yang sehat tidak dapa terbantahkan bahwa akan timbul kenakalan remaja yang sebenarnta merugikan remaja itu sendiri.
Kenakalan remaja sering kita dengar dan kita saksikan dalam beberapa media cetak, elektronik, serta ketika kita pernah melihat kenakalan remaja di jalan-jalan. Contohnya, ketika kita melihat pelajar masih menggunakan pakaian sekolah naik sepeda motor dengan ugal-ugalan, nongrong di perempatan dengan merokok bahkan mungkin minum minuman keras, dan masih banyak contoh lainnya.
Keadaan semacan itu sebenarnya perlu segera dicarikan jalan keluarnya. Tetapi, masih banyak yang lepas tanggung jawab akan masalah yang terjadi pada remaja tersebut. Orang tua sering menyalahkan pihak sekolah atau guru yang dianggap harus bertanggung jawab, karena guru yang mendidik dan mengajar tiap hari.
Namun, demikian pihak sekolah atau guru juga tidak mau dipersalahkan dan menjadi kambing hitan. Hal ini berdasarkan waktu bertemunya guru dan siswa sangatlah terbatas, paling satu hari hanya enam jam dan sisa waktu lain selalu berhadapan dengan orang tua dan lingkungan sekitarnya. Sehingga pengaruh dari keluarga dan lingkungan dianggap lebih mendominasi bagi perkembangan siswa.
Bila keadaan saling lempar tanggung jawab ini masih menjadi perdebatan yang tidak akan ada ujung pangkalnya, kiranya masalah remaja tidak akan ada habisnya. Hal ni terjadi karena masing-masing kurang memahami bahwa mereka punya tanggung jawab sendiri-sendiri.
Menurut hemat saya sebaiknya masalah remaja menjadi tanggung jawab semua pihak. Pihak remaja harus memahami hak dan kewajibannya, pihak sekolah atau guru mengawasi dan membimbing sehingga remaja dapat menggunakan kreatifitasnya untuk hal yang positif dan kreatif, sedangkan pihak orang tua sebagai pengarah utama. Tindakan ini kiranya lebig berarti daripada saling mempersalahkan dan membenarkan pendapat masing-masing. Semoga remaja Indonesia semakin jaya, berkompeten, kreatif dan inovatif. Mari kita dukung bersama.
Ev. Cahya Tri Astarka,S.Pd
Guru Bahasa Indonesia
SMP Stella Matutina Salatiga
Jl. Diponegoro No. 53 Salatiga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar